Diberdayakan oleh Blogger.

tahap tahap (menjadi) wong edan




Selalu ada proses untuk menjadi sesuatu. Tidak ada patokan cepat atau lambat karena waktu kadang begitu relatif. Catatan Wong Edan kali ini (sepurane lek suwe ra metu, repot garap Mat lontong karo ngisengi uwong) akan sedikit berbagi tentang proses seseorang menjadi wong edan. Untuk lebih mudahnya *ra sah digawe soro, wong edan kan angel mikir’e* disini aku akan membagi dalam beberapa tahap yang nantinya bisa kamu baca, pikir dan cerna kembali mana yang pas buat edanmu saat ini. Tidak berlaku kaku artinya tidak semua sama, aku sendiri hanya mencoba berbagi dari pengalaman pribadi, teman, juga sahabat dekatku Spiderman *ojo ngenyek lek, kene biyen sak es em ma yo*.
Tahap keedanan yang berhasil aku rumuskan kurang lebih seperti ini:
  1. TAHAP KAGET
Setiap wong edan yang baru menyadari kalau ternyata dia diberi kelebihan berupa keedanan hal pertama yang terjadi adalah kaget. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Kok iso aku edan?” atau “Ya ampun, aku edan!” atau bahkan “Wow, ternyata aku edan” (rodo lebay sing iki) adalah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul ketika untuk pertama kalinya kamu menyadari anugerah (kelebihan) ini. Contoh: bangun tidur jika biasanya (yang katanya umum) orang (sing ngaku-ngaku waras) akan cuci muka, cuci piring atau cuci gudang *waras ato ancen berjiwa babu?* kamu (wong edan) memilih langsung lari-lari pagi. Bukannya apa-apa tapi yo suwalan disik rek, ojo dithokno ngono ae *kebiasaan nang londo turu mung sempakan thok.* Begitu sadar (lek gak suwalan) bukannya cepat-cepat kembali kamu justru terus berlalu. Dan yang membuatmu (juga yang melihatmu) kaget adalah ternyata kamu nggak malu *iki sing ga diduweni wong edan.* Pada akhirnya yang kamu ucapkan adalah “Aku ora suwalan dan aku ora isin, kok iso yo? Ternyata aku edan!” *kaget tapi karo ngguyu-ngguyu, bangga.*
  1. TAHAP PENGINGKARAN (DENIAL)
Tidak pernah mudah menerima sesuatu yang baru (baru kamu miliki, baru kamu sadari) seperti keedananmu ini. Jika sebelumnya kamu kaget bahkan sempat senang karena ternyata kamu berbeda, kamu punya kelebihan, yang terjadi selanjutnya adalah mulai mengingkari atau bahasa kerennya denial. Tidak semua orang bisa langsung menerima kelebihannya *opo maneh kekurangane* perasaan berbeda, lain dari yang lainnya juga tidak mudah. Ketika orang-orang mulai melihatmu dengan sebelah mata *sebelahe sek diumbah* mempertanyakan keabsahanmu sebagai manusia bahkan yang mungkin sedikit parah mereka mulai mencemooh, menghina kelebihanmu itu [edan memang bukan kelebihan yang membanggakan bagi (masih) banyak orang], mulai muncullah rasa rendah diri, merasa tak sebaik yang lain, hina. Maka ketika malam tiba dan kamu (wong edan) sendiri di kamarmu *nang WC yo ora popo, sak karep* air matamu mulai menetes. Bukan lagi “kenapa aku (harus) seperti ini (edan)?” tapi “aku nggak kayak gini (edan), aku nggak mau kayak gini (edan)!” Dan mulailah kamu berusaha menyembunyikan bahkan menghilangkan kelebihan (keedanan)mu. Contoh: jika sebelumnya (melanjutkan contoh di atas *nyawang duwur, genteng be’e*) kamu lari-lari pagi tanpa celana *sepurane lek contohe rodo saru* dan kamu tidak merasa malu dan (meski) kamu memang (masih) tidak malu karena kamu tidak/belum bisa menerima kelebihanmu itu lalu kamu melakukan hal yang menurutmu bisa membuatmu tak berbeda dengan lainnya, kali ini kamu kemana-mana pakai celana. Yo nggak masalah sisan sakjane, suka-suka tapi kalo mandi, pipis, boker atau suntik ke dokter kamu nggak mau lepas celana kan malah susah *bayangno dewe rek.* Atau juga kamu mulai bersikap sensitif plus agresif. Tiap ada yang melihat atau berbisik-bisik kamu langsung berteriak, “Aku ora edan!” lalu kamu berlarian sambil memukul-mukul kepalamu sendiri *tambah parah ketoke.*
  1. TAHAP MIKIR
Setelah usahamu untuk tidak menjadi beda dengan yang lain, menyembunyikan kelebihan (keedanan)mu tidak berhasil *lek caramu koyo contoh nang duwur jelas gak katene kasel, tambah dipikir edan iyo* tahap selanjutnya adalah tahap mikir, mulai berpikir. Tidak akan pernah bisa kita menyembunyikan sesuatu, paling nggak pasti ada yang tahu pada saatnya, jadi setelah usaha yang menurutku akan berakhir sia-sia maka yang terjadi adalah kamu (wong edan) mulai (harus) berpikir mengenai kelebihanmu. Sesuatu ada karena memang ada tujuan, ada alasannya untuk apa dia ada, sebaik apapun, seburuk apapun, untukmu seedan apapun. Pada tahap ini keedananmu yang sebelumnya sempat mengkhawatirkanmu, menakutkanmu mungkin juga membuatmu malu *rodo sangsi lek sing iki, secara kon edan* mulai mendapat tempat di otakmu. Pertanyaan berikutnya adalah “Aku edan?”
Contoh: pada tahap ini wong edan biasanya akan cenderung menyendiri, menarik diri dari lingkungan, sebagian bahkan mungkin pilih semedi *asal ora ndekem nang WC ae, po maneh lek WCne WC umum.* Antara kenapa, tidak ingin (seperti ini) akan terus berputar di otak, membuat tidur yang tak pernah nyenyak *wong edan angel turu’e, pikirane nglabeng ae* semakin terkoyak *es!rodo lebay iki bosone.* Apakah diterima atau terus disembunyikan atau kalau perlu dibuang saja kelebihan (keedanan) ini adalah pertanyaan yang sering muncul di tahap ini.
  1. TAHAP NRIMO
Setelah melalui tahap pemikiran yang menguras pikiran juga tenaga (karena tidur yang semakin tak berkualitas) mungkin juga menguras kantong (karena pada tahap pemikiran perut sering menjadi pelarian, makan) sampai juga wong edan (kamu) di tahap nrimo alias tahap penerimaan. Di tahap ini kamu sudah bisa menerima bahwa keedananmu memang suatu kelebihan yang mungkin tak semua orang bisa miliki. Banyak yang ingin edan tapi seringnya malah nggilani *edan gak mesti (gak kudu) nggilani.* Tidak lagi berusaha menyembunyikan apalagi membunuh keedananmu, di tahap ini kamu tahu kamu memang edan, mungkin juga terlahir untuk edan. Maka ungkapan (kebahagiaan) seperti, “Aku Edan!” bukan hanya diucapkan tapi diteriakkan sambil berlarian keliling kampung dan menyalami setiap orang yang ditemui atau jika punya sedikit rejeki kemudian membuat pesta syukuran mengundang para tetangga, mentraktir teman dan sahabat juga biasa dilakukan karena apapun kelebihanmu tentunya memang patut untuk disyukuri. Menempel tulisan di pintu kamar atau dinding kamar dengan huruf besar AKU EDAN biasanya juga menjadi pilihan setelah sampai di tahap ini. Ingin lebih maksimal lagi, pesan kaos yang disablon di bagian punggung atau dada dengan tulisan AKU EDAN *tambah sip ae edane, hooh thok wes.*
Contoh: wong edan yang ada di tahap ini sudah bisa tersenyum. Jika berkenalan dia akan bilang, “aku edan” tanpa ragu bahkan seringnya tanpa ada yang bertanyapun dia akan bilang seperti itu.
  1. TAHAP PERENCANAAN
Menerima saja tentu belum cukup, tidak cukup karena kelebihan bukan hanya untuk diterima saja tapi juga untuk dimanfaatkan (demi kebaikan umat). Di tahap ini rencana-rencana edan mulai disusun. Ingin edan yang seperti apa kamu, harus benar-benar dipikirkan *sakno sakjane wes edan sik kon mikir ae.* Jika edanmu jenis pasif alias tidak terlalu suka menggumbar bahkan untuk mengungkapkan atau mengeluarkan keedananmu saja masih sulit kamu bisa belajar. Membaca akan menjadi hal yang sangat bermanfaat (berlaku untuk semua orang). Jika orang yang mengaku waras hanya mampu menyelesaikan satu buku dalam satu hari wong edan bisa menyelesaikan satu buku hanya dalam satu jam, kurang bahkan *lek sing diwoco komik utowo buku bacaan arek-arek TK.* Kalau kamu ingin jadi wong edan yang punya title, gelar, kamu bisa masuk ke sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi yang biaya belajarnya edan-edanan, dijamin nggak lama kamu bakal jadi wong edan sing total *edan karena gak kuat mbayar.* Untuk wong edan jenis yang aktif bisa memilih menjadi aktifis pembela kaum edan yang masih dipinggirkan, dikucilkan, dianggap penyakit yang bukannya dibantu dan diayomi tapi malah dibasmi. Semua butuh rencana, paling tidak kamu harus punya gambaran, bayangan, impian, ingin (edan) seperti apa kamu, edan yang berguna atau edan yang hanya ktp saja.
Contoh: yang paling sering terlihat pada wong edan tahap ini adalah tanpa mengenal waktu dan tempat dia sering mencoret sesuatu di atas kertas, di tembok, di bajunya sendiri juga baju orang lain jika dia nggak lagi pake baju, di dedaunan, di batang pohon, dimanapun. Setiap pikiran yang melintas memunculkan sebuah rencana dan secepatnya dicatat.
  1. TAHAP BERTINDAK
Memikirkan dan membuat rencana sudah, selanjutnya tentu melakukan aksi, tindakan nyata untuk mewujudkan apa yang sudah dijadikan pilihan. Wong edan yang memutuskan ingin melanjutkan pendidikan bisa mempersiapkan utangan untuk bisa masuk dan biaya lain-lain di perguruan tinggi. Begitu masuk langsung dekati teman-teman kampus yang menunjukkan ciri-ciri yang sama *baca ciri-ciri wong edan di note sebelumnya* ajak mereka bicara, diskusi dan bentuk sebuah komunitas di kampusmu. Jika kamu tipe (edan) yang agak sulit melakukan pendekatan pakai kaos dengan tulisan WONG EDAN saat pertama kali masuk atau OSPEK dengan begitu siapapun yang melihatmu di kampus akan tahu dan mungkin mereka yang justru akan mendekatimu *gak janji, paling-paling malah do ngadoh.* Di tahap yang terakhir ini keedananmu sudah tidak perlu dipertanyakan, tak lagi diragukan *kon edan dan kon maksimal.*
Contoh: di tahap ini wong edan sangat mudah dikenali bahkan mungkin disegani *males nyedek kabeh, gak pingin golek masalah karo wong edan.* Dimanapun, kapanpun dia (wong edan) tidak akan ragu menggumbar senyum juga tawa (ada atau tidak ada orang), selalu bersemangat dan tak kenal lelah.

Uraian di atas adalah tahap-tahapan wong (jadi) edan yang bisa kubagi. Sudah sampai tahap mana edanmu tentu kamu lebih tahu. Apakah untuk dilanjutkan atau dihentikan, itu hakmu. Untukmu (wong edan) yang sudah sampai tahap terakhir kuucapkan selamat dan aku nggak akan bosen untuk bilang kamu nggak sendiri dan kamu nggak perlu takut. Yang menakutkan adalah ketika kamu nggak mengerti apa yang ada di pikiranmu, apa yang kamu mau, jadi mulai berpikir dan tentukan pilihanmu.

1 komentar:

wow... nemu tulisan keren, nih. dapat inspirasinya dari mana, mas? :D

Reply

Posting Komentar